August 29, 2018

Atlas


Geografi, pelajaran mengenai bentuk bumi, ukuran bumi, intinya tentang seluk beluk  langit dan bumi. Aku teringat sebuah hadiah yang dulunya aku pandang sepele, tetapi ternyata sangat membekas manfaatnya. 10 tahun yang lalu, saat hal hal yang tak bisa kupikir dengan seksama, dimana sabar dan keikhlasan kita diuji, ketika waktu cepat datang dan cepat pergi.
***
“Ting ting ting, ting ting ting, tiring ting ting ting” , “Mak, aku belikan es krim dua, rasa coklat dan stroberi”, terdengar suara kakak sepupuku berteriak meminta es krim. Kakak sepupuku itu laki laki, tetapi manjanya lebih dari anak perempuan.
Di keluarga yang berketurunan cina, ada kepercayaan bahwa cucu laki laki adalah keberuntungan. Bisa dipastikan, setiap cucu laki laki orang cina sangat disayang dan sangat dimanja. Inilah realita yang kutemui di kehidupanku. Setiap orang dirumah harus bisa menuruti apa maunya, bahkan mamaku juga.
Mamaku anak ketiga dari tiga bersaudara. Ya, mamaku adalah anak bungsu, yang dalam cerita anak bungsu selalu paling dimanja, paling disayang, dan hal lain yang bersifat melebihkan. Tetapi hal itu tidak terjdi pada mamaku.
Dulu, setelah 2 tahun menikah kongku dan makku belum juga memiliki anak, akhirnya mengadopsi pamanku. Sekitar 1 tahun setelah mengadopsi pamanku, makku hamil bibiku. Hari yang telah ditunggu makku telah tiba, akhirnya bibiku lahir. Sejak kecil setiap keinginan bibiku selalu terpenuhi. Bisa dibilang semua kasih sayang mak dan kongku telah dimiliki bibi. Hanya selisih 3 tahun, makku melahirkan mamaku. Hal yang sama tidak terjadi. Mamaku selalu berjuang dalam masa mudanya, tidak semua keinginannya terpenuhi, berbeda sekali dengan paman dan bibiku yang mendapat kasih sayang lebih dari Mak dan Kongku.
***
Setiap Minggu pagi, Mak dan Kongku pergi ke gereja. Setelah selesai dari gereja, mereka pergi ke pasar untuk membeli lauk sarapan, kami tidak sempat memasak karena setiap minggu pagi ada kerja bakti di kampung. Hari itu ketika di pasar, kong tidak hanya membeli lauk, kong juga membelikan jam tangan untuk aku dan kakak. Jam tangan itu berbentuk baju, warna ungu untukku dan yang warna merah untuk kakakku.
“Kakak warna merah, adik warna ungu. Ini sama, cuma warnanya beda, gaboleh rebutan ya Nak,” kata Kong.
“Terimakasih Kong,”  kataku sambil memeluk Kong. Kakakku diam tak berkata apapun.
Mak membelikan kami lauk sayur dengan telur dadar dan bakmi goreng. Aku dan seluruh keluarga sarapan bersama. Sayangnya Mak tidak bergabung karena kakakku marah tanpa alasan. Kakak diam saja dan sibuk  melihat TV dengan volume yang sangat keras.
“Kak, kenapa kamu? kok marah marah gajelas, minta apa se? bilang ta nek mau sesuatu, gausah bikin emosi Mak!” kata Mak dengan nada tinggi.
“Adek dibelikan jam tangan warna ungu, aku mau warna ungu, aku gamau merah,jawab kakakku sambil menangis dengan nada manja.
“Dek, adek sini Nak,” suara Mak memanggilku.
Aku berlari kearah Mak dengan mulut yang penuh bakmi.
“Adek, jam tangan e ini biar di pakai kakak dulu ya, adek  nanti dibelikan lagi sama Kong.  Gapapa ya Nak, kakak e kasihan, ” tanya Makku.
Papaku datang dan bertanya kepada Mak, “Ada apa ? ”
Iki lo, kakak e minta jam sing ungu, adek sek ngalah, tak tukar uang sek dibeli kan Mama e,” jawab Mak kepada Papa.
Gausah Ma, enggak perlu ditukar uang, ” jawab Papa.
Aku memberikan jam tangan itu. Setelah itu Papa menggendongku kekamar, aku melihat Papaku menangis. Saat itu aku tak mengerti, kenapa karena hal kecil saja papaku sampai mengeluarkan air mata. Saat itu aku tak mengerti apa yang ada di pikiran orang dewasa.
***
Kongku menderita penyakit kencing manis. Walaupun begitu, kong masih kuat di usia nya untuk berkegiatan, padahal teman teman kong yang lain hanya duduk dirumah saja.
Kong itu orangnya pelit. Jika beliau memiliki rezeki, sulit baginya untuk berbagi, bahkan kepada anak anaknya. Walaupun begitu, jika kong memberikan sesuatu, beliau pasti membagi rata kepada ketiga anaknya dan tidak pilih kasih.
Saat aku masuk TK A, dan kakakku masuk TK B, kongku meninggal dunia. Masih teringat hari itu, dihari kepergian Kongku. Aku berjalan kedepan dan duduk dikursi.Tiba  tiba kakakku datang dan mendorong kursiku sampai aku terjatuh. Aku hanya menangis, dan entah kenapa kakakku juga ikut menangis. Papa datang langsung menggendong dan mengusap air mataku, tetapi berbeda dengan  Makku yang datang langsung memeluk kakaku dan bertanya, “Siapa yang jatuh ?”
Sambil menangis kakakku menjawab, “Tadi adek menyiram air putih ke aku Mak,”
Bahkan dihari kematian Kongku, kakakku masih bisa bersikap seperti itu. Aku melihat Papa, terlihat wajah yang memendam amarah, tetapi karena aku masih kecil aku hanya bisa menangis ketika terluka.
***
Setelah kematian Kong, Makku memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta.  Bersama temannya, beliau bekerja di perusahaan konveksi pakaian. Walaupun Mak tidak disini, tetapi sifat manja kakakku masih berlanjut. Bibi baru saja menikah dan belum memiliki anak, akhirnya kakakku beralih manja kepada Bibi.
Aku dan Kakak bersekolah di SD yang sama. Waktu itu akan ujian kenaikan kelas, sore harinya kakakku bermain sepeda dan layangan bersama beberapa anak. Saat pulang, pelipis kiri kakaku sudah sobek dan kakaku menangis terjerit jerit. Orang serumah pun bergegas ke rumah sakit. Setelah di periksa, kakakku mendapat 6 jahitan di pelipis kirinya.
“Kok bisa kak sampai kayak gini ? ngapain ae ? disuruh belajar kok malah main layangan!” Tanya Bibi sambil menangis
Lah sepedaku tertarik benang layangan, terus aku tadi di tabrak sama sepeda temanku, kaki ku kegulung benang layangan dan kena gesekan batu di pelipis, sakit Bi,” Jawab kakakku membentak kepada Bibi
“Ya Tuhan, gangerti lah, terserah!”  Ucap Bibi sambil meninggalkan kami.
Karena kejadian ini, kakakku tidak masuk sekolah satu minggu dan tidak mengikuti ujian.
Hari pengambilan rapot, orang rumah mendapatkan dua hal mengejutkan, pertama aku mendapat peringkat pertama dan nilai matematika ku sempurna. Hal mengejutkan kedua, ternyata kakakku tidak naik kelas.
Orang rumah tidak bisa berkata apapun kepada kakak. Marah, kesal, jengkel semua terlihat menjadi satu di wajah mereka. Padahal liburan tahun ini Mak memberi kabar kalau akan pulang. Tetapi cucu kesayangannya tidak menyambutnya dengan baik.                    
***
Hari dimana Makku kembali dari Jakarta, semua orang menunggu dengan bahagia, walaupun kakak telah melakukan kesalahan, tetapi seakan tidak ada yang perlu di evaluasi dari setiap kesalahannya.
Jam satu siang, Mak sampai dirumah. Mak membelikan setiap orang hadiah. Papa dan paman diberi hadiah satu stel baju lengkap dengan celana, Bibi dibelikan perhiasaan emas, mama kakaku dibelikan baju, tetapi mamaku sendiri yang tidak diberi hadiah. Kakaku mendapat banyak hadiah, pakaian, mainan dan alat tulis, tetapi saat Mak memberiku hadiah, beliau berkata, “Aku kemarin itu lupa mau beli hadiah buat adik, akhirnya di bis ada orang jualan atlas sepuluh ribuan aku belikan buat adik, maaf ya Dik Mak lupa beli hadiah buat kamu,” .
Saat itu masih jelas jika aku tidak begitu faham, Apa itu atlas ? buku bendera bendera dunia ?
“Ah mungkin di kelas 2 nanti aku akan belajar dengan ini,” Ucapku dalam hati.
 Aku tetap menerimanya dengan senang. Bahkan mama yang tidak diberi hadiah tetap senang karena Mak sudah pulang dengan selamat.
***
Aku merasa sedikit iri ketika kakakku berganti pakaian baru dan bermain dengan mainannya yang baru. Kakak tidak naik kelas tetapi hadiahnya kok paling banyak?  kenapa aku tidak dibelikan juga? kenapa aku diberi buku yang bahkan aku belum bisa mempelajarinya? aku mulai bertanya tanya.
“Ma, atlas ini aku gabisa ngerti, kakak mainan baru banyak, bajunya yang baru juga banyak.”  Kataku kepada mama
“Atlas itu buku pelajaran, nanti sampai SMA kamu masih butuh ini.” Jawab mama, aku berusaha memahami walau sebenarnya aku masih bingung apa maksudnya.  
“Gini nak, yang namanya buku ilmunya pasti mengalir jika kita mengamalkannya.  Baju dan mainan, hanya beberapa tahun sudah tidak terpakai, jadi jangan merasa begitu sama kakak. Hadiah dari Mak tetap di simpan, jangan sampai hilang,” Mama menasihatiku, akupun mengangguk.
***
Nasihat mama waktu itu selalu kuingat. Bertahun tahun aku mencoba memahaminya, mencoba mengerti sebuah arti dari setiap kejadian yang tak kumengerti.
Jika hanya baju atau mainan, setahun dua tahun sudah tidak terpakai. Kenangannya pun lambat tahun akan terlupakan. Jika ilmu yang diberikan kepada kita , kita bisa memanfaatkannya sampai nanti. Inilah rasanya mendapat hadiah dari seorang nenek yang pilih kasih terhadap cucu cucunya.  
Bertahun tahun telah berlalu. Aku beranggapan bahwa sejatinya Mak lebih sayang kepadaku, karena beliau memberikan kasih sayangnya dengan atlas sederhana ini. Sampai kapanpun akan teringat sejarahnya, bukan hanya tentang bendera dunia dan peta dunia, tetapi semua yang ada dimasa kecilku itu, akan teringat setiap kali aku melihat hadiah sederhana yang penuh makna.

---


cerita diatas adalah permintaan temen ipa 3 yang pengen tugas cerpenku di upload :") oke ini udah aku upload yaa, akhirnya kalian bisa baca berulang ulang yaa
(Tugas SMA kelas XI)

No comments:

Post a Comment