Geografi,
pelajaran mengenai bentuk bumi, ukuran bumi, intinya tentang seluk beluk langit dan bumi. Aku teringat sebuah hadiah
yang dulunya aku pandang sepele, tetapi ternyata sangat membekas manfaatnya. 10
tahun yang lalu, saat hal hal yang tak bisa kupikir dengan seksama, dimana
sabar dan keikhlasan kita diuji, ketika waktu cepat datang dan cepat pergi.
***
“Ting ting ting,
ting ting ting, tiring ting ting ting” , “Mak, aku belikan es krim dua, rasa
coklat dan stroberi”, terdengar suara kakak sepupuku berteriak meminta es krim.
Kakak sepupuku itu laki laki, tetapi manjanya lebih dari anak perempuan.
Di keluarga yang
berketurunan cina, ada kepercayaan bahwa cucu laki laki adalah keberuntungan.
Bisa dipastikan, setiap cucu laki laki orang cina sangat disayang dan sangat
dimanja. Inilah realita yang kutemui di kehidupanku. Setiap orang dirumah harus
bisa menuruti apa maunya, bahkan mamaku juga.
Mamaku anak
ketiga dari tiga bersaudara. Ya, mamaku adalah anak bungsu, yang dalam cerita anak
bungsu selalu paling dimanja, paling disayang, dan hal lain yang bersifat
melebihkan. Tetapi hal itu tidak terjdi pada mamaku.
Dulu, setelah 2
tahun menikah kongku dan makku belum juga memiliki anak, akhirnya mengadopsi
pamanku. Sekitar 1 tahun setelah mengadopsi pamanku, makku hamil bibiku. Hari
yang telah ditunggu makku telah tiba, akhirnya bibiku lahir. Sejak kecil setiap
keinginan bibiku selalu terpenuhi. Bisa dibilang semua kasih sayang mak dan
kongku telah dimiliki bibi. Hanya selisih 3 tahun, makku melahirkan mamaku. Hal
yang sama tidak terjadi. Mamaku selalu berjuang dalam masa mudanya, tidak semua
keinginannya terpenuhi, berbeda sekali dengan paman dan bibiku yang mendapat
kasih sayang lebih dari Mak dan Kongku.
***
Setiap Minggu
pagi, Mak dan Kongku pergi ke gereja. Setelah selesai dari gereja, mereka pergi
ke pasar untuk membeli lauk sarapan, kami tidak sempat memasak karena setiap
minggu pagi ada kerja bakti di kampung. Hari itu ketika di pasar, kong tidak
hanya membeli lauk, kong juga membelikan jam tangan untuk aku dan kakak. Jam
tangan itu berbentuk baju, warna ungu untukku dan yang warna merah untuk kakakku.
“Kakak warna
merah, adik warna ungu. Ini sama, cuma warnanya beda, gaboleh rebutan ya Nak,” kata Kong.
“Terimakasih
Kong,” kataku sambil memeluk Kong. Kakakku
diam tak berkata apapun.
Mak membelikan
kami lauk sayur dengan telur dadar dan bakmi goreng. Aku dan seluruh keluarga
sarapan bersama. Sayangnya Mak tidak bergabung karena kakakku marah tanpa
alasan. Kakak diam saja dan sibuk
melihat TV dengan volume yang sangat keras.
“Kak, kenapa
kamu? kok marah marah gajelas, minta
apa se? bilang ta nek mau sesuatu, gausah bikin emosi Mak!” kata Mak dengan nada tinggi.
“Adek dibelikan
jam tangan warna ungu, aku mau warna ungu, aku gamau merah,” jawab kakakku
sambil menangis dengan nada manja.
“Dek, adek sini
Nak,” suara Mak memanggilku.
Aku
berlari kearah Mak dengan mulut yang penuh bakmi.
“Adek, jam
tangan e ini biar di pakai kakak dulu
ya, adek nanti dibelikan lagi sama Kong. Gapapa
ya Nak, kakak e kasihan, ” tanya Makku.
Papaku datang
dan bertanya kepada Mak, “Ada apa ? ”
“Iki lo, kakak e minta jam sing ungu,
adek sek ngalah, tak tukar uang sek
dibeli kan Mama e,” jawab Mak kepada
Papa.
“Gausah Ma, enggak perlu ditukar uang, ”
jawab Papa.
Aku memberikan
jam tangan itu. Setelah itu Papa menggendongku kekamar, aku melihat Papaku
menangis. Saat itu aku tak mengerti, kenapa karena hal kecil saja papaku sampai
mengeluarkan air mata. Saat itu aku tak mengerti apa yang ada di pikiran orang
dewasa.
***
Kongku menderita
penyakit kencing manis. Walaupun begitu, kong masih kuat di usia nya untuk
berkegiatan, padahal teman teman kong yang lain hanya duduk dirumah saja.
Kong itu
orangnya pelit. Jika beliau memiliki rezeki, sulit baginya untuk berbagi,
bahkan kepada anak anaknya. Walaupun begitu, jika kong memberikan sesuatu,
beliau pasti membagi rata kepada ketiga anaknya dan tidak pilih kasih.
Saat aku masuk
TK A, dan kakakku masuk TK B, kongku meninggal dunia. Masih teringat hari itu, dihari
kepergian Kongku. Aku berjalan kedepan dan duduk dikursi.Tiba tiba kakakku datang dan mendorong kursiku
sampai aku terjatuh. Aku hanya menangis, dan entah kenapa kakakku juga ikut
menangis. Papa datang langsung menggendong dan mengusap air mataku, tetapi
berbeda dengan Makku yang datang langsung
memeluk kakaku dan bertanya, “Siapa yang jatuh ?”
Sambil menangis
kakakku menjawab, “Tadi adek menyiram air putih ke aku Mak,”
Bahkan dihari
kematian Kongku, kakakku masih bisa bersikap seperti itu. Aku melihat Papa,
terlihat wajah yang memendam amarah, tetapi karena aku masih kecil aku hanya
bisa menangis ketika terluka.
***
Setelah kematian
Kong, Makku memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta. Bersama temannya, beliau bekerja di perusahaan
konveksi pakaian. Walaupun Mak tidak disini, tetapi sifat manja kakakku masih
berlanjut. Bibi baru saja menikah dan belum memiliki anak, akhirnya kakakku
beralih manja kepada Bibi.
Aku dan Kakak
bersekolah di SD yang sama. Waktu itu akan ujian kenaikan kelas, sore harinya
kakakku bermain sepeda dan layangan bersama beberapa anak. Saat pulang, pelipis
kiri kakaku sudah sobek dan kakaku menangis terjerit jerit. Orang serumah pun bergegas
ke rumah sakit. Setelah di periksa, kakakku mendapat 6 jahitan di pelipis
kirinya.
“Kok bisa kak
sampai kayak gini ? ngapain ae ?
disuruh belajar kok malah main
layangan!” Tanya Bibi sambil menangis
“Lah sepedaku tertarik benang layangan,
terus aku tadi di tabrak sama sepeda temanku, kaki ku kegulung benang layangan
dan kena gesekan batu di pelipis, sakit Bi,” Jawab kakakku membentak kepada Bibi
“Ya Tuhan,
gangerti lah, terserah!” Ucap Bibi
sambil meninggalkan kami.
Karena kejadian
ini, kakakku tidak masuk sekolah satu minggu dan tidak mengikuti ujian.
Hari pengambilan
rapot, orang rumah mendapatkan dua hal mengejutkan, pertama aku mendapat
peringkat pertama dan nilai matematika ku sempurna. Hal mengejutkan kedua,
ternyata kakakku tidak naik kelas.
Orang rumah
tidak bisa berkata apapun kepada kakak. Marah, kesal, jengkel semua terlihat
menjadi satu di wajah mereka. Padahal liburan tahun ini Mak memberi kabar kalau
akan pulang. Tetapi cucu kesayangannya tidak menyambutnya dengan baik.
***
Hari dimana Makku
kembali dari Jakarta, semua orang menunggu dengan bahagia, walaupun kakak telah
melakukan kesalahan, tetapi seakan tidak ada yang perlu di evaluasi dari setiap
kesalahannya.
Jam satu siang,
Mak sampai dirumah. Mak membelikan setiap orang hadiah. Papa dan paman diberi
hadiah satu stel baju lengkap dengan celana, Bibi dibelikan perhiasaan emas,
mama kakaku dibelikan baju, tetapi mamaku sendiri yang tidak diberi hadiah.
Kakaku mendapat banyak hadiah, pakaian, mainan dan alat tulis, tetapi saat Mak
memberiku hadiah, beliau berkata, “Aku kemarin itu lupa mau beli hadiah buat
adik, akhirnya di bis ada orang jualan atlas sepuluh ribuan aku belikan buat
adik, maaf ya Dik Mak lupa beli hadiah buat kamu,” .
Saat itu masih
jelas jika aku tidak begitu faham, Apa itu atlas ? buku bendera bendera dunia ?
“Ah mungkin di
kelas 2 nanti aku akan belajar dengan ini,” Ucapku dalam hati.
Aku tetap menerimanya dengan senang. Bahkan
mama yang tidak diberi hadiah tetap senang karena Mak sudah pulang dengan
selamat.
***
Aku merasa sedikit
iri ketika kakakku berganti pakaian baru dan bermain dengan mainannya yang baru.
Kakak tidak naik kelas tetapi hadiahnya kok
paling banyak? kenapa aku tidak
dibelikan juga? kenapa aku diberi buku yang bahkan aku belum bisa
mempelajarinya? aku mulai bertanya tanya.
“Ma, atlas ini
aku gabisa ngerti, kakak mainan baru banyak,
bajunya yang baru juga banyak.” Kataku
kepada mama
“Atlas itu buku
pelajaran, nanti sampai SMA kamu masih butuh ini.” Jawab mama, aku berusaha
memahami walau sebenarnya aku masih bingung apa maksudnya.
“Gini nak, yang
namanya buku ilmunya pasti mengalir jika kita mengamalkannya. Baju dan mainan, hanya beberapa tahun sudah
tidak terpakai, jadi jangan merasa begitu sama kakak. Hadiah dari Mak tetap di
simpan, jangan sampai hilang,” Mama menasihatiku, akupun mengangguk.
***
Nasihat mama
waktu itu selalu kuingat. Bertahun tahun aku mencoba memahaminya, mencoba
mengerti sebuah arti dari setiap kejadian yang tak kumengerti.
Jika hanya baju
atau mainan, setahun dua tahun sudah tidak terpakai. Kenangannya pun lambat tahun
akan terlupakan. Jika ilmu yang diberikan kepada kita , kita bisa
memanfaatkannya sampai nanti. Inilah rasanya mendapat hadiah dari seorang nenek
yang pilih kasih terhadap cucu cucunya.
Bertahun tahun
telah berlalu. Aku beranggapan bahwa sejatinya Mak lebih sayang kepadaku,
karena beliau memberikan kasih sayangnya dengan atlas sederhana ini. Sampai
kapanpun akan teringat sejarahnya, bukan hanya tentang bendera dunia dan peta
dunia, tetapi semua yang ada dimasa kecilku itu, akan teringat setiap kali aku
melihat hadiah sederhana yang penuh makna.
cerita diatas adalah permintaan temen ipa 3 yang pengen tugas cerpenku di upload :") oke ini udah aku upload yaa, akhirnya kalian bisa baca berulang ulang yaa
(Tugas SMA kelas XI)
No comments:
Post a Comment