February 24, 2018

Take your decision

Dulu, waktu usia 8 tahun atau kelas 2 SD, ada anak perempuan yang jadi pengurus dikelasnya, lebih tepatnya bendahara. Saat itu dia merasa gamau dan gapingin ribet jadi pengurus, pinginnya jadi murid biasa aja. Tapi, temen temennya tetep dukung karena merasa dia bisa jadi bendahara. Akhirnya dia mau jadi bendahara selama 1 semester. Awal awla dia merasa masih terpaksa dalam mengemban tugasnya, tapi seiring berjalannya waktu dia mulai menyukai dan bisa mengemban tanggung jawab dengan baik. Setelah selesai menjabat,dia kembali mejadi murid seperti biasa, yang sekolah hanya untuk belajar.

Saat itu kelas 4 SD, ada pemilihan kader UKS, anak ini yang dulunya gasuka banyak ribet dengan berbagi  kegiatan, akhirnya mulai berubah dengan mengikuti pemilihan kader UKS ini. Yaaa karena anak ini termasuk anak yang dominan dikelas, dikenal banyak guru jadi yaa langsung bisa masuk dengan posisi yang lumayan. 

Dari sinilah anak ini memutuskan untuk berani dan mulai berambisi untuk selalu jadi pemimpin. 

Mengambil keputusan semacam memanah anak panah, harus teliti agar tepat sasaran dan harus berani untuk melepaskannya.  

Beberapa hari ini ada satu hal yang cukup memakan banyak ruang dipikiranku. Masalahnya ada di cara pengambilan keputusan. Memang, jika disuatu perkumpulan tidak ada yang pasti siapa pemimpinnya, setiap pengambilan keputusan bisa jadi rumit, ujung ujungnya ga ada keputusan yang diambil. Apalagi jika partner kita kurang percaya diri dalam mengambil segala keputusannya. Selalu dalam segala hal dipertanyakan, padahal ada beberapa hal yang tidak perlu dibicarakan, tetapi bisa langsung dikerjakan. 

singkat saja, jika kita terus menerus bergantung kepada anggota yang lain dan tidak berani dalam mengambil keputusan, bagaiman kita bisa lebih maju ? bagaimana kita bisa lebih mandiri kedepannya, jika dalam hal apapun kita hanya bisa bilang 'terserah'  dan ragu ragu dalam bertindak 

Kita sama sama belajar untuk menjadi lebih baik.
Dalam hal ini, semuanya gaharus menunggu dari pemimpin, karena tim yang solid itu ketika pemimpinnya gaada, tapi tetap bisa jalan - AR 



February 9, 2018

Bertanya dan Mempengaruhi, Menyindir dan Memberi Saran

Peduli, bagi sebagian orang sulit diekspresikan, tetapi sebagian yang lain merasa mudah diekspresikan hingga harus diakui akan sikapnya. Kecenderungan sikap peduli pembawaannya berbeda, tanggapan orang lain pastinya berbeda juga.

Kepedulian yang pembawaannya bersifat keras dan mengkritik, tidak serta merta dipahami maksudnya, bahkan bisa jadi kepedulian tersebut diartikan sebagai pengaruh negatif yang harus dibuang jauh jauh, atau kepedulian itu hanya pura pura saja.

Menurut kejadian yang biasa aku alami, hal ini bisa mengakibtakan banyaknya respon berbentuk sindiran yang dilontarkan.  Yang lebih menjengkelkan, hal ini terjadi terus menerus. Seolah olah semakin kita peduli, bahkan khawatir, semakin besar pula sindiran yang dilontarkan. (Mungkin ini yang namanya kritik dibalas dengan kritik)

Aneh lagi, kepedulian dengan pembawaan sopan dan lembut juga tidak bisa langsung dipahami. Begitu juga respon yang diberikan, sama seperti hal yang tertulis diatas.

Bayangkan saja jika kepedulian seseorang dibawakan dengan bentuk sindiran ?

Akibat apalagi yang akan terjadi

Jika situasi seperti ini terus menerus terjadi, bagaimana sikap saling peduli bisa tumbuh dimasa depan ? Padahal sikap saling peduli dan saling memahami berhubungan langsung dengan kehidupan sosial individu, dimana setiap individu tersebut saling membutuhkan