Kondisi seperti ini mengingatkan pada seseorang yang bercerita ke aku mengenai hal kecurangan. Dibenak kalian mungkin contek mencontek, membuat krepek atau salinan materi dan dibawa ke tempat ujian itu hal yang biasa dilakukan untuk melakukan kecurangan di sekolah. Tapi hal ini berbeda dengan cerita seseorang ini .
Ambisi bisa merugikan seseorang yang menghalalkan segala cara. Inilah cerita dari orang tersebut. Kecurangan kecurangan yang dilakukan bukan lagi saling menyontek dan mengkrepek tetapi sudah merambah kedalam mencuri soal dan melakukan kerja sama sesama geng. Bahkan mereka rela untuk menulisakan soal yang diujikan disaat teman mereka yang lain hari itu tidak mengikuti ujian. Hal yang mengejutkan bukan ?
Betapa ruginya orang orang seperti mereka yang hanya ingin memenuhi ambisi belaka terkait deretan angka, yang aku pikirkan disini adalah tekanan batin mereka dan psikis mereka.
Setelah beberapa kali mengamati, tekad mereka melakukan hal seperti itu tidak lain adalah rasa tidak atau kurang puas terhadap kemampuan sendiri, tekanan dari lingkungan mereka dan tuntutan keluarga.
Dari sinilah muncul kebohongan dan rasa ketakutan. Mereka tidak akan mengerti, dengan terus menerus melakukan hal semacam ini, dapat lebih menjatuhkan mereka daripada tetap menjadi orang yang apa adanya dengan dasar jujur dan menghargai diri sendiri.
Pengamatanku juga, sebenarnya manusia adalah makhluk yang senantiasa jujur. Otak mereka akan merasa tertekan jika mereka berbohong. Tubuh akan merasa tidak siap untuk melakukan kebohongan. Tubuh juga sebenarnya tidaklah menginginkan kebohongan itu.
Pembuktian dari diriku sendiri adalah ketika ulangan harian bertanya kepada teman disampingku, sebenarnya aku sangat gemetar dan merasa sangat sulit untuk melakukan hal itu. Setelah ulangan pun aku akan merasa sangat sedih dan menyesal kenapa tadi aku memaksa tubuhku untuk melakukan hal tersebut.
Kita tidak akan mau melakukan hal yang tidak kita inginkan atau hal yang tidak kita butuhkan. Intinya seperti itulah tubuh kita menolak kebohongan.
Jika kita melakukan kebohongan tersebut dan berlanjut, tubuh kita akan semakin tertekan dan tertekan, karena sekalinya orang berbohong dan bisa menutupi kebohongan itu, mereka akan terus menerus berbohong lagi lagi dan lagi untuk melanjut cerita kebohongan mereka.
Bisa dibayangkan bagaimana beban yang ditanggung tubuh kita ?
Jika saja kebohongan ini terbongkar, dampaknya bukan lagi pada fisik, melainkan pada psikis. Jiwa mereka akan sangat tertekan karena kebohongan terbongkar dan tidak lagi dipercaya orang.
Lalu mengapa masih banyak orang yang tidak jujur dan memperberat psikis mereka sendiri ? bukankah jujur lebih memudahkan segala urusan ?
Janganlah risau teman teman, kita harus senantiasa mensyukuri apa yang kita miliki, dengan begini Allah akan senantiasa memberikan nikmat yang lebih kepada kita. Don't lose hope
Ambisi bisa merugikan seseorang yang menghalalkan segala cara. Inilah cerita dari orang tersebut. Kecurangan kecurangan yang dilakukan bukan lagi saling menyontek dan mengkrepek tetapi sudah merambah kedalam mencuri soal dan melakukan kerja sama sesama geng. Bahkan mereka rela untuk menulisakan soal yang diujikan disaat teman mereka yang lain hari itu tidak mengikuti ujian. Hal yang mengejutkan bukan ?
Betapa ruginya orang orang seperti mereka yang hanya ingin memenuhi ambisi belaka terkait deretan angka, yang aku pikirkan disini adalah tekanan batin mereka dan psikis mereka.
Setelah beberapa kali mengamati, tekad mereka melakukan hal seperti itu tidak lain adalah rasa tidak atau kurang puas terhadap kemampuan sendiri, tekanan dari lingkungan mereka dan tuntutan keluarga.
Dari sinilah muncul kebohongan dan rasa ketakutan. Mereka tidak akan mengerti, dengan terus menerus melakukan hal semacam ini, dapat lebih menjatuhkan mereka daripada tetap menjadi orang yang apa adanya dengan dasar jujur dan menghargai diri sendiri.
Pengamatanku juga, sebenarnya manusia adalah makhluk yang senantiasa jujur. Otak mereka akan merasa tertekan jika mereka berbohong. Tubuh akan merasa tidak siap untuk melakukan kebohongan. Tubuh juga sebenarnya tidaklah menginginkan kebohongan itu.
Pembuktian dari diriku sendiri adalah ketika ulangan harian bertanya kepada teman disampingku, sebenarnya aku sangat gemetar dan merasa sangat sulit untuk melakukan hal itu. Setelah ulangan pun aku akan merasa sangat sedih dan menyesal kenapa tadi aku memaksa tubuhku untuk melakukan hal tersebut.
Kita tidak akan mau melakukan hal yang tidak kita inginkan atau hal yang tidak kita butuhkan. Intinya seperti itulah tubuh kita menolak kebohongan.
Jika kita melakukan kebohongan tersebut dan berlanjut, tubuh kita akan semakin tertekan dan tertekan, karena sekalinya orang berbohong dan bisa menutupi kebohongan itu, mereka akan terus menerus berbohong lagi lagi dan lagi untuk melanjut cerita kebohongan mereka.
Bisa dibayangkan bagaimana beban yang ditanggung tubuh kita ?
Jika saja kebohongan ini terbongkar, dampaknya bukan lagi pada fisik, melainkan pada psikis. Jiwa mereka akan sangat tertekan karena kebohongan terbongkar dan tidak lagi dipercaya orang.
Lalu mengapa masih banyak orang yang tidak jujur dan memperberat psikis mereka sendiri ? bukankah jujur lebih memudahkan segala urusan ?
Janganlah risau teman teman, kita harus senantiasa mensyukuri apa yang kita miliki, dengan begini Allah akan senantiasa memberikan nikmat yang lebih kepada kita. Don't lose hope